AkperBlog

Rabu, 05 Maret 2014

tugas manajemen perbankkan (Irwan Efendi / 20130730006) (Nurul Ma'rifah/20130730047)

Hasil dan Pembahasan
Berikut ini adalah hasil dan pembahasan dalam penelitian ini:
Image
Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Mandiri tahun 2008 – 2012. DPK Bank Mandiri terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2012 yaitu sebesar 60.664 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Mandiri juga terus meningkat, dan peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2011 sebesar 6,50%. Meski terdapat peningkatan DPK dan LDR dalam kurun waktu lima tahun, Bank Mandiri mampu untuk terus menurunkan kredit bermasalah yang dimilikinya (NPL), penurunan NPL terbesar terjadi pada tahun 2009 sebesar 1,9%.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa Bank Mandiri telah dengan bijak mengatur proporsi DPK untuk menyalurkan kredit karena Bank Mandiri memiliki kredit bermasalah yang kecil, bahkan NPL Bank Mandiri adalah NPL terkecil dari Bank BUMN lainnya pada tahun 2012.
Image
Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Negara Indonesia tahun 2008 – 2012. DPK Bank Negara Indonesia terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2011 yaitu sebesar 36.921 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Negara Indonesia mengalami fluktuasi, bahkan pada tahun 2009 LDR mengalami penurunan sebesar 4,50% dan kembali mengalami peningkatan sebesar 6,10% pada tahun berikutnya. Peningkatan ini tidak sebesar peningkatan LDR tahun 2012 yaitu sebesar 7,10%. Meski mengalami fluktuasi LDR, NPL Bank Negara Indonesia terus mengalami penurunan, dan penurunan terbesar terjadi pada tahun  2012 yaitu sebesar 0,80%.
Dari tabel di atas kita dapat mengetahui bahwa Bank Negara Indonesia selalu berusaha mengendalikan jumlah penyaluran kredit agar kredit bermasalah terus berkurang dengan mengurangi pinjaman dari tabungan yang ada jika dianggap kredit bermasalah terlalu tinggi, kemudian kembali menyalurkan kredit dari tabungan setelah dianggap bahwa kredit bermasalah berkurang.
Image
Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Rakyat Indonesia tahun 2008 – 2012. DPK Bank Negara Indonesia terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2010 yaitu sebesar 77.724 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Rakyat Indonesia mengalami fluktuasi, bahkan pada tahun 2010 LDR mengalami penurunan hingga 5,71% dan kembali mengalami peningkatan sebesar 1,03% pada tahun berikutnya. Peningkatan LDR tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 3,65%, namun peningkatan ini tidak sebanding dengan penurunan yang terjadi pada tahun 2010 tadi. NPL Bank Rakyat Indonesia mengalami fluktuasi dengan adanya peningkatan NPL sebesar 0,72% pada tahun 2009. Namun NPL yang tinggi pada tahun 2009 mampu ditekan hingga 0,74%.
Berdasarkan tabel di atas, kita dapat mengetahui bahwa setelah terjadi peningkatan NPL tahun 2009, Bank Rakyat Indonesia berusaha menekan jumlah pinjaman dari tabungan pada tahun berikutnya. Dan setelah NPL mampu diturunkan, Bank Rakyat Indonesia secara perlahan mulai meningkatkan pinjaman dari tabungan pada tahun-tahun berikutnya.
Image
Tabel di atas menunjukkan besar DPK, LDR, NPL, dan perubahannya, milik Bank Tabungan Negara tahun 2008 – 2012. DPK Tabungan Negara terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2008 hingga 2012, dan peningkatan terbesar dialami pada tahun 2012 yaitu sebesar 18.698 Milyar Rupiah. Jumlah pinjaman dari simpanan (LDR) Bank Tabungan Negara mengalami fluktuasi, bahkan cenderung menurun setiap tahunnya terlebih pada tahun 2011 yang penurunannya mencapai 5,86%, sedangkan LDR terrtinggi terjadi pada tahun 2010 sebesar 108,42% dengan peningkatan sebesar 7,13%. NPL Tabungan Negara juga mengalami fluktuasi bahkan pada thun 2012 mengalami peningkatan sebesar 1,34% sehingga NPL Bank Tabungan Negara mampu menyentuh angka 4,09%.
Dari tabel di atas kita dapat mengetahui bahwa Bank Tabungan Negara memiliki DPK yang paling sedikit jika dibandingkan dengan DPK Bank BUMN lainnya. Namun, Bank Tabungan Negara menyalurkan pinjaman dari tabungan dalam jumlah yang sangat besar bahkan terbesar dari Bank BUMN lainnya. Jika kita melihat perubahan LDR dan NPL Bank Tabungan Negara, kita akan tahu bahwa Bank Tabungan Negara sulit mengendalikan kredit bermasalah yang dimiliki. maka tidak salah mengapa pada akhir tahun 2012 kredit bermasalah milik Bank Tabungan Nasional mencapai angka 4,09% (sudah mendekati 5%).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisa data yang dilakukan, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1.       Kebijakan kredit yang dikeluarkan oleh pihak manajemen bank diperlukan untuk menentukan jumlah DPK yang dapat disalurkan bank melalui pinjaman atau kredit dan mengendalikan jumlah kredit bermasalah. Dalam menyalurkan kredit, bank perlu menentukan kebijakannya dengan baik. Menurut Fitria dan Sari (2012), kebijakan pemberian kredit menggunakan konsep dengan prinsip 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition.
2.      Peningkatan jumlah DPK pada bank cenderung meningkatkan LDR dan menurunkan NPL. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah dana yang dihimpun bank dari masyarakat, semakin banyak pula proporsi dana tersebut yang disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit, serta semakin berkurangnya kredit bermasalah yang dihadapi oleh bank. Untuk menghindarkan NPL yang tinggi dari penyaluran kredit yang tidak efisien, perlu dipertimbangkan alokasi dana yang efisien seperti penyaluran kredit yang dapat memberikan return yang tinggi dengan NPL yang rendah (Utomo, 2008).
3.      Hubungan antara DPK, LDR, dan NPL yang disimpulkan diatas adalah tidak absolut. Banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut. Menurut Perry Warjiyo (2004), dalam kenyataannya perilaku penawaran kredit perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh dana yang tersedia yang bersumber dari DPK (Dana Pihak Ketiga), tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi perbankan itu sendiri seperti permodalan atau CAR (Capital Adequacy Ratio), jumlah kredit macet atau NPL (Non Performing Loan), dan LDR (Loan Deposit Ratio) (Irma, 2011) .

.Tabel 1.3. Perbandingan Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank
Islamic Bank(Des 2010) Total Bank Islamic Bank(Des 2011-Jan 2012) Total Bank
.Total Asset 49,56 2.14% 2,310.60 66,09 2.61% 2,534.10
.Nominal Share Nominal Share
.Deposit Fund 36,85 2.10% 1,753.30 52,27 2.65% 1,973.00
.Credit Financial
.Extended 38,20 – – 46,88 – -
.FDR/LDR 103.66% – – 89.70% – -
.Sumber : BI, Statistik Perbankan Syariah, Januari 2012
.Pada tabel 1.3 dapat kita bahwa pangsa perbankan syariah meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2011 pada bulan yang sama, yaitu asset menjadi 2.61% meningkat sebesar 0.47% , Deposit Fund atau DPK juga mengalami pertumbuhan menjadi 2,02%, meningkat 0,24%. hal ini menunjukkan kinerja dan potensi perbankan syariah mengalami perkembangan yang baik.
.tabel 1.4. Komposisi Pembiayaan Bank Syariah
.indikasi 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
.Tabungan IB
.akad wadiah/musyarokah 73,634 86,708 161,450 209,991 393,765 425,767
.akad mudarabah 157,806 210,182 279,841 282,891 373,693 426,622 472,569
Pada table 1.4 terlihat bahwa persentase pembiayaan murabahah dengan prinsip jual-beli yang dilakukan oleh perbankan syariah mendominasi jauh di atas dari pembiayaan mudharabah dan musyarokah. Pada tahun 2011 terjadi perberdaan terbesar dimana persentase pembiayaan mudharabah dan musyarokah hanya sebesar 14,36 dan 5,53 persen sedangkan pembiayaan mudarabah sebesar 70,81 persen. Namun sayangnya, meskipun pembiayaan dengan prinsip jual – beli selalu mengalami penurun setiap tahunnya namun jumlah persentasenya tidak pernah kurang dari lima-puluh persen.
.Semestinya, pembiayaan dengan akad mudharabah dan akad musyarakah harus lebih banyak. Karena pada akad inilah karakteristik dasar perbankan syariah terbentuk. Kedua akad tersebut merupakan akad dengan sistem bagi hasil. Perbankan syariah dengan sistem bagi hasil inilah yang menjadi pembeda dengan bank konvensional.

Sumber:http://dbcgsbipb.wordpress.com/rubrik/artikel-statistika/analisis-statistik-perbankan-syariah-indonesia-januari-2012/ & http://raycarddestion.wordpress.com/2013/07/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar